06 October, 2010

SHMS

Baru dengar istilah ini?
Saya juga baru tahu beberapa bulan yang lalu, ketika menangani installasinya. SHMS adalah kepanjangan dari Structure Health Monitoring System. System ini baru pertama kali di gunakan di Indonesia, tepatnya di jembatan terpanjang di Indonesia.. yak persis.. yaitu jembatan Suramadu yang menghubungkan pulau Jawa dan pulau Madura (Surabaya-Madura). Saya tidak membahas lebih banyak mengenai jembatannya, silahkan cek disini bila ingin mengetahui kisah jembatan Suramadu.

Kembali ke SHMS, system ini merupakan system untuk monitoring dari kesehatan fisik stuktur dari sebuah bangunan / jembatan. Apa saja yang di monitoring? lumayan banyak.. dan Suramadu hanya menggunakan sebagian saja. Untuk lebih mudahnya, saya hanya membahas yang telah di gunakan di suramadu.

Beberapa peralatan yang di pasang di SHMS Suramadu :
1. CCTV
Monitoring system peralatan standardnya adalah camera CCTV dan ada beberapa Camera terpasang di sepanjang jembatan. Selain sebagai monitoring secara visual dari si jembatan, CCTV di SHMS di tujukan untuk memantau apabila sensor2 mendeteksi suatu kejadian, maka system akan memerintah CCTV untuk menangkap gambar (image capture) dari titik yang di inginkan dimana Camera CCTV terpasang. Hal ini untuk mendokumentasikan sekaligus evaluasi.

2. WIM Sensor
Weight In Motion Sensor adalah perangkat untuk mendeteksi berat (lebih tepatnya berat gandar/gardan) dari sebuah kendaraan yang melintas di jalan.
Sensor ini di pasang di Jalan Raya sebelum memasuki jembatan Suramadu. Gunanya adalah untuk memonitor kendaraan yang akan melintas menuju suramadu, agar ketika ada kendaraan yang beban gandar/gardannya melebihi kapasitas yang diijinkan maka system sensor ini akan mengirim sinya warning ke Pusat Monitoring. Selanjutnya melalui sistem koordinasi dengan operator jembatan dan Polisi lalu lintas, maka kendaraan tersebut dapat di perintahkan untuk memutar kembali atau diberi tindakan lain, denda misalnya. System ini harus terkoordinasi dengan pihak Owner (Dinas PU), operator jembatan (sementara masih di pegang Jasa Marga) sebagai pihak yang berhak menentukan kendaraan yang boleh melintas berserta tarifnya dan DLLAJR sebagai penguasa jalan raya. Kendaraan yang melebihi kapasitas bisa saja melintas asal ada koordinasi kepada pihak terkait.

Gambar dan peletakan sensor saya posting menyusul.

3. Anemometer / Wind Sensor
Karena suramadu melintasi laut, maka faktor angin sangatlah berpengaruh terhadap kondisi stuktur jembatan dan juga keselamatan pengguna. Oleh karena itu di pasang 3 buah wind sensor di suramadu.
2 unit di pasang tri-axial anemometer di sisi luar jembatan di posisi tengah-tengah jembatan (bentang tengah/main span), penempatan sensor tersebut karena fungsinya adalah untuk keamanan pengendara terhadap hembusan angin. Apabila hembusan angin melebihi kecepatan yang aman untuk pengendara sepeda motor, maka warning system akan di keluarkan, koordinasi dengan pihak operator jembatan untuk segera menutup jalur sepeda motor, apabila kecepatan angin meningkat hingga membahayakan pengendara mobil, maka seluruh jembatan akan di tutup sampai kecepatan angin aman untuk pengendara.
1 unit di pasang bi-axial anemometer di top pylon, berfungsi mengukur kekuatan angin terhadap struktur jembatan. Berbeda dengan tri-axial anemometer, pembacaan sensor ini lebih ditujukan untuk membandingkan kecepatan angin dengan kekuatan struktur tiang jembatan, hasilnya di bandingkan dengan design. Setelah melalui proses monitoring panjang, baru akan di ketahui pengaruh angin terhadap jembatan.

Beda antara tri-axial dan bi-axial anemometer, tri-axial menghasilkan data kecepatan angin (velocity), darimana asal angin (horisontal) dan elevasinya (arah angin secara vertikal) sedangkan bi-axial hanya memberikan data kecepatan angin dan darimana asal angin (horisontal).

Gambar dan peletakan sensor saya posting menyusul.

..to be continued..


14 March, 2008

Invitation : ABB in Building Automation

Untuk yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya bisa ikut seminar ini. 'Tempat terbatas' kata yg punya acara (ABB Indonesia).
Registrasi sebelum Selasa, 18 Maret 2008.






23 January, 2008

Which functions can ABB i-bus® EIB be used for?

Lighting
The lighting can be manually switched or dimmed. A switch sensor can operate any lamp in the house or external lighting. All the lamps can be switched off centrally (before going to bed or when leaving the house) or switched on (e.g. to warn away intruders). Lightscenes that are used frequently (e.g. for reading, watching TV or at mealtimes) can be stored by pressing a button and recalled again as often as necessary with a single push button action. Infrared remote control enables the operation of selected functions, without you having to leave your seat. All the lighting functions can be automatically run using time programs or triggered via a motion sensor which detects the presence of people in the building. Constant lighting control is particularly suitable for office workstations where the brightness level at the workplace must be kept at a previously specified value, regardless of whether the sun is shining or the sky clouds over. In functional buildings, several users can make very different demands on the lighting system: the employees require a pleasant lighting level for working; the lighting is alternately dimmed up and down during meetings and presentations; the cleaners might need all the rooms to be lit up at the same time and the owner requires any unnecessary lights to be switched off or dimmed down in order to save energy costs. ABB i-bus® EIB gives you the flexibility to do this.

Temperatur Control
ABB i-bus® EIB can also be implemented for individual room temperature regulation. The temperature is constantly measured and adjusted to the required level via the radiator valves controlled over EIB. Such valves can also be closed automatically when windows in the room are opened (via window contacts) to avoid wasting energy. A pleasant temperature is thus achieved in each room (individual room control). The required temperature can be set using the rotary thermostat control or by pressing a push button. The temperature variation over the course of the day can be automatically programmed dependent on the room usage. During the night, the temperatures in selected rooms can be lowered to save resources and thus help to preserve our environment. Shading Shutters and roller blinds can be individually raised and lowered: either fully, step-by-step or moved to a specific position. All the shutters and roller blinds can also be moved simultaneously – all rooms can thus be made darker or lighter at the touch of a button. Manual shutter control functions can also be carried out via infrared remote control. The shutter control functions can be carried out fully automatically using a control system with time programs, light sensors or wind sensors. All the roller blinds, for example, can be closed if the brightness level drops below a specific value after 18:00 or they can be closed during the day for protection against intense sunlight.

Security
With ABB i-bus® EIB, important security functions can be integrated into the electrical installation.
Presence simulation: During your absence, the roller blinds open and close at the usual time, the lights are switched on and off and the radio plays music every now and again. It therefore does not occur to anyone that you are not at home.
Lock monitoring: Contacts check whether all the doors and windows are closed. A warning signal can therefore be sounded, for example, before you leave the house if any doors or windows are open. Skylights and garage doors can also be monitored in this way.
Intruder: Alarm signals are triggered if doors and windows are forcibly opened or broken. The presence of unauthorized people inside the house can be recorded with motion detectors. If you are in the house and feel threatened, you can trigger an alarm via an emergency call button.
Alarm signals: In the case of an alarm, a local alarm can be sounded via sirens and strobe lights or a silent alarm can be triggered and a telephone dialing device activated. The silent alarm can notify you either directly via the telephone, inform a neighbor or an emergency service centre.
Fire: Smoke detectors can also be integrated into the electrical installation. All the occupants of the house are thus reliably warned about the possible danger. Additionally a security company can be alerted in good time, before the house is engulfed by flames.
Technical alarms: ABB i-bus® EIB also manages technical signals. You can therefore protect the property against serious damage if water seeps in or there are technical faults in the electrical installation.
All alarm reports can be shown on a display or panel unit. In this way, you can easily find out which alarm has been triggered and in which part of the building.

Display and operate
ABB i-bus® EIB offers a variety of display and operating possibilities whether you are a home owner, office worker or just a user of such an installation. The clear depiction of information and ease of operation simplify the control of processes in buildings.
Switching states, fault signals and measured values as well as alarm signals can be displayed at various locations inside the building and also externally via the Internet or telephone.
You can switch loads manually via the push buttons on the display unit and carry out your own settings.
PC visualization is particularly recommended for more sophisticated requirements. The PC is directly connected to the electrical installation. The PC visualization enables a very clear representation with numerous individual setting options. LCD displays are particularly suitable for an individual and flexible layout. Text and switch functions can be freely programmed on the PC and loaded into the LCD display via an interface. Switching states or fault signals can also be
displayed via LEDs. Panel units with plan drawings and LEDs, or panels with touch control and LEDs are used most frequently.

Control and logging
Control: Additional functions are made possible in an electrical installation by higher-order control procedures. The effort involved is reduced and the economic efficiency of the installation is increased. Complex logic operations, gates, timing elements and staircase lighting functions can also be easily programmed and integrated into the ABB i-bus® EIB systems.
Logging: The logging of important switching commands and fault signals increases the transparency of an installation. The availability is thereby improved, the checking process is simplified and the functional reliability as a whole is increased. ABB i-bus® EIB can print out the log of selected events with any required textual information on one or several logging printers.

Ventilation
Ventilation makes a significant contribution to achieving a pleasant atmosphere in rooms. You can open and close skylights or glass façades using ABB i-bus® EIB. A weather station ensures that the onset of rain is detected and the windows are automatically closed to prevent any water from getting in.

14 January, 2008

Zelio Smart Relay

Zelio adalah produk dari Telemecanique yang di ageni oleh PT. Schneider Indonesia. Walau saya tidak bekerja di PT. Schneider Indonesia, tapi saya pernah mendapatkan pelatihan 3 hari dari mereka tentang 'Zelio' ini. Saya ingin berbagi di postingan ini karena Zelio ini cukup murah harga nya dan banyak sekali aplikasi yang bisa di gunakan. Saya coba lihat2 melalui 'Google' ternyata Zelio ini juga cukup populer.

Zelio secara umum memang banyak di gunakan untuk OEM, aplikasi mesin/industri yang kecil saja, namun saya lihat juga Zelio ini ternyata juga bisa di gunakan untuk Lighting Control atau Automation sederhana dengan free customized program. Bahkan bisa juga di fungsikan sebagai master control security system. Masalahnya saya belum pernah coba langsung dengan alatnya, selama ini saya hanya test secara virtual menggunakan Zelio Software.

Yang membuat saya tertarik dengan produk ini adalah adanya system paket yang cukup murah (paket termurahnya kira2 Rp. 3,5jt), dimana dalam 1 paket ini sudah termasuk GSM modul. Sedangkan GSM Modul sendiri (Merk ABB atau Merk lain) itu harganya cukup mahal, saya pernah pasang harganya sekitar 10 jutaan (GSM Modul saja). Secara fungsi dan kapasitas memang tidak sama, masing2 punya kelebihan dan kekurangan, namun dengan selisih harga sebesar itu saya pasti pilih Zelio. Bila waktu memungkinkan saya coba akan postingkan secara detail technical information untuk produk ini. Itung2 refreshing yang sudah pernah saya dapat. Sedangkan untuk Softwarenya kita bisa peroleh secara gratis disini. Silahkan test sendiri.

Keunggulan dari Zelio Smart Relay :
  1. Sangat mudah untuk di implementasikan dan waktu implementasi proyek lebih cepat
  2. Bersifat Flexible dan cukup handal
  3. Mudah dalam modifikasi (Software)
  4. Lebih Ekonomis dibandingkan PLC untuk aplikasi sederhana
  5. Waktu training yng cukup singkat
  6. Tersedianya modul komunikasi MODBUS sehingga Zelio dapat menjadi Slave PLC dalam suatu jaringan PLC
  7. Beberapa fiture2 unggulan zelio: Fast counter (hingga 1kHz), 2 pilihan bahas program (Ladder atau FBD (Function Block Diagram)), 16 buah timer, 16 buah counter, 8 buah blok fungsi clock(setiap blok fungsi memiliki 4 kanal), automatic summer/winter time switching dan 16 buah analog comparator
  8. Harganya coy... jauh lebih murah dibandingkan PLC.

Kekurangan dari Zelio ini bila digunakan sebagai Automation system adalah :

  1. Karena Produk ini memang untuk aplikasi sederhana, maka Zelio terbatas dalam jumlah Input dan Output, maximum kapasitas Zelio adalah 40 I/O terdiri dari 24 input (6 analog dan 18 binary) dan 16 output. Bila untuk aplikasasi yang besar saya sarankan tetap gunakan PLC seperti SCADA atau yang lainnya

  2. Bila dipergunakan untuk Lighting Control, Zelio tidak bisa langsung di gunakan sebagai Dimmer control, jadi Dimmer Control harus beli lagi, sedangkan Zelio hanya sebagai input dari Dimmer Control tersebut.

Untuk lihat2 type bisa lihat gambar berikut :


Bila memerlukan katalog, saya bisa kirimkan melalui email atau download sendiri disini



EIB Devices and Stations

EIB terdiri dari beberapa Device / peralatan, dimana semua peralatan ini mempunyai fungsi masing2. Pada dasarnya Peralatan EIB ini terdiri dari 4 jenis, yaitu :

1. System Devices
Yaitu : Power Supply, Comunication data devices (RS 232 atw USB comunicator), Line Coupler dan Area Coupler. Device ini tidak di hitung sebagai 'Station'.
2. Sensors Devices
Yaitu : Push Button (Saklar) dengan type yang macemnya banyak sekalee, tranducer (untuk sensor angin, hujan, panas, cahaya, dll), thermostat, analog input. Device ini masuk kategori 'station'.
3. Actuators Devices
Yaitu : Lighting Actuator (berfungsi sebagai pengganti fungsi saklar), dimming actuator, blind actuator dan heating actuator. Device ini masuk juga sebagai kategori 'station'.
4. Controllers Devices
Sensor dan Actuator bisa di gabung dengan peralatan logic yang cukup komplex. Device ini juga masuk sebagai kategori 'station'.

Penjelasan di atas merupakan penjelasan secara umum, bila ada yang membutuhkan katalog dari devices diatas saya bisa kirimkan via email. Tapi saya hanya punya katalog ABB, sedangkan merk2 EIB lainnya silahkan minta ke distributor terdekat.

Sebagai informasi tambahan, jumlah peralatan EIB yang akan di pasang tergantung dari banyak faktor, biasanya semua informasi tersebut di dapat dari konsultan dan owner. Intinya semua tergantung dari keinginan pemilik, sampai sejauh mana beliau ingin mengkontrol peralatan rumahnya. Supaya kesannya tidak terlalu rumit, saya coba jabarkan informasi yang biasanya saya butuhkan secara umum :
  1. Gambar perencanaan Listrik, gambar layout dan single line diagram dari bangunan tersebut.
  2. Informasi dari Pemilik atau konsultan, apa saja yang ingin dikontrol oleh EIB. Yang pasti di kontrol adalah penerangan, namun sebenarnya tidak perlu seluruh penerangan dikontrol karena akan mubazir. Contohnya ruang service, ruang pembantu / sopir cukup menggunakan system konventional saja.
  3. Khusus untuk Penerangan, jenis lampu dari penerangan yang di kontrol harus diketahui ( TL, Pijar, Halogen dll ). Kemudian lampu mana saja yang di kontrol oleh dimmer. Masalah ini biasanya cukup sulit ditentukan dari awal, karena berkaitan dengan interior design seperti furniture, warna cat dll.
  4. Untuk peralatan mekanikal seperti AC, Motorized Blind, Heater, dll data yang diperlukan selain jumlah dan bebannya diperlukan juga Merk dan input / output yang di butuhkan (binary atw analog)
  5. Karena EIB system mempunyai Security Module, maka dimungkinkan EIB system mengkontrol Security systeam dalam satu kesatuan. Bila diinginkan maka diperlukan survey yang lebih mendalam untuk menentukan sensor yang digunakan.
  6. Yang terakhir adalah, menentukan jenis device untuk mengkontrol, bisa berupa saklar/push button dan touch screen atau sensor seperti IR dan juga kebutuhan remote kontrol. Pernah ada yang minta di design rumahnya tanpa saklar (swichless), semua penerangan di atur secara otomatis dengan sensor, timer dan IR remote kontrol.

Semua design memang benar2 customized, walau biasanya pada awalnya si pemilik rumah belum bisa membayangkan system yang di inginkan, ketika sytem sudah terpasang baru dia akan merasa mana sebenarnya yang dibutuhkan. Hal ini yang akhirnya menimbulkan kerja tambah kurang. Lain halnya dengan design untuk gedung yang biasanya sudah di rancang dari awal pembangunannya.


13 January, 2008

EIB Description

Disini saya ingin bahas lebih detail tentang EIB System.
EIB System membutuhkan Power Supply 24Vdc untuk daya sekaligus untuk komunikasi datanya melalui Busline (dalam hal ini menggunakan Kabel Data 2 pair). Setiap Power Supply membutuhkan 220Vac sebagai catu utamanya.
Jadi ada 2 sumber daya dalam 1 installasi, yang pertama adalah 220Vac(1 phase) atau 400Vac(3 phase) sebagai catu utama ke Power supply dan ke setiap beban (seperti lampu, ac dan lain2); dan yang kedua 24Vdc yang dihasilkan oleh Power Supply sekaligus sebagai penghantar komunikasi datanya.

EIB adalah system yang tidak tersentral (decentrallize), artinya EIB tidak membutuhkan panel kontrol sebagai sentral, juga tidak membutuhkan Komputer (PC) khusus untuk data tansfer dan penyimpananya. Seluruh data konfigurasi di simpan di setiap device / station (STN). Setiap STN juga bisa saling berkomunikasi melalui jalur data (telegrams).

Peringkat terkecil dalam installasi EIB kita sebut sebagai LINE. Setiap LINE membutuhkan 1 power supply yang hanya untuk maximum 64 station (STN). Dan Setiap Power Supply bisa berkolaborasi dengan Power Supply lainnya menjadi satu system dan bisa menanggung lebih dari 45,000 station (STN).

Mengingat banyak nya 'Station' yang bisa di gabungkan dalam system ini maka jarak kabel data juga harus diperhitungkan. berikut tabel jarak kabel data :

Berikut juga gambar diagram dari sebuah LINE :

Lalu bagaimana jika sebuah gedung membutuhkan lebih dari 64 station? maka kita bisa membuat LINE kedua, untuk membedakan satu LINE dengan LINE yang lainnya di butuhkan sebuah alat yang bernama Line Coupler. Line Coupler ini juga memerlukan sebuah power supply juga (jadi untuk 2 LINE membutuhkan 2 line Coupler dan 3 power supply), Busline dari tiap line coupler adalah sebagai Main Line alias Back bone system ini. Maximum Setiap 1 Main Line bisa menampung 12 LINE. Biar ga puyeng, lihat gambaran diagramnya sebagai berikut:

Setiap Main Line bisa di gabung lagi menjadi AREA LINE, setiap AREA LINE bisa menampung maximum 15 Main Line. Supaya lebih mudah ngitungnya lihat tabel berikut :

Jadi untuk satu system bisa menampung 11,520 station, sedangkan bila diperlukan installasi yang lebih besar, maka system ini di extended dengan maximum setiap LINE menampung 255 station, total 45,900 Station.... Masih kurang? masa seh?...

Puyeng? sama donk... saya sendiri belum pernah menangani proyek sampai sebanyak itu. Proyek yang pernah saya tangani stationnya tidak lebih dari 64 station.

Dari tadi kita bicarakan Station (STN).. mahluk apaan sih ini? saya akan bahas dalam postingan selanjutnya. Ciao..

27 December, 2007

Efficiency

Salah satu kelebihan dari Automation system adalah Efisiensi. Baik dari segi waktu, energi dan juga uang.

Satu2nya kendala dari Automation adalah dari Harganya yang MAHAL. Tapi harga yang dibayarkan sebenarnya sebanding dengan hasil yang diperoleh, jadi bisa di anggap Investasi jangka panjang.

Bayangkan sebuah gedung bertingkat bila tidak menggunakan automation, pihak maintenance tentunya akan banyak membuang banyak waktu dan tenaga hanya untuk mengecek semua perangkat/peralatan yang tempatnya terpisah2. Misalnya pagi hari dia harus mengecek tangki penampungan air di lantai atap dan di basement reservoir, belum dia harus menghidupkan pompa2 di tempat2 terpisah, belum FCU, AHU, Escalator dan lain2. Biaya2 yang dikeluarkan akan lebih banyak bila tidak menggunakan BMS/BAS.

Untuk skala rumah tinggal jangan bayangkan rumah BTN yang kemana2 deket, maksudnya ke dapur deket, ke WC deket, ke kamar tidur juga deket... jadi bila rumah kecil menggunakan Automation malah jadi tidak efisien alias boros. Satu2nya kegunaannya ya cuma buat Gengsi.

Bandingkan dengan rumah mewah yang besar (yang kalo nyari toilet aja bisa nyasar..). Untuk di Indonesia rumah seperti ini pasti punya pembantu lebih dari 1. Mereka memang bisa mengandalkan pembantunya untuk mengecek lampu, pompa, ac atau apalah yang mengkonsumsi listrik. Namun pembantu juga manusia, bisa lupa atau salah mengoperasikan, belum lagi kalo pembantunya suka bohong. Jadi banyak Energi listrik yang tidak terkontrol pemakaiannya yang harus di tanggung oleh pemilik rumah. Dengan menggunakan Automation, si pemilik rumah bisa membuat semua peralatan listrik dan elektroniknya terkontrol. Supaya mudah membayangkan, saya misalkan begini : ketika pagi hari semua lampu taman sudah mati sendirinya, curtain atau tirai terbuka secara otomatis. kemudian ketika sore hari terjadi kebalikannya. menjelang tidur, beberapa penerangan luar akan mati secara otomatis (boros kan kalo semua lampu luar hidup semua dari sore sampai pagi), kemudian lampu2 yang tidak diperlukan di seluruh rumah akan mati juga. AC dan Fan juga diintegrasikan sehingga pemakaiannya benar2 efisien. Bayangkan energi listrik yang dapat di save? dan karena penggunaanya lebih efisien pasti tagihan PLN bisa lebih murah dibandingkan tanpa menggunakan Automation. Biaya besar yang dikeluarkan di awal pembelian akan kembali dalam waktu tertentu. Belum lagi Prestige yang diperoleh.
Ngomong2 soal Efisiensi, sebenernya tidak dengan automation saja efisiensi dapat dilakukan. Selama ini PLN selalu mempromosikan matikan cukup dua lampu dari jam 19.00-22.00, ini dimasudkan untuk efisiensi daya PLN dimana ketika waktu tersebut adalah masa puncak peak load) pemakaian listrik. Sayangnya PLN sendiri saya lihat masih belum melakukan efisiensi energi, contohnya mereka masih mengandalkan BBM untuk bahan bakar pembangkitnya. Padahal banyak sekali sumber energi gratis di alam ini yang bisa dimanfaatkan, misalnya matahari, angin, air, panas bumi sampai gas dari sampah.
Masih banyak di daerah terpencil yang belum terjangkau PLN, tapi sebenarnya daerah tersebut bisa mengandalkan energi yang ada, misalnya untuk di daerah pegunungan bisa mengandalkan air sungai untuk menggerakan turbin kecil yang bisa menghasilkan listrik untuk wilayah mereka saja. Atau di daerah pesisir pantai yang bisa mengandalkan kincir angin untuk sumber energinya.
Untuk kendaraan juga kita masih mengandalkan Bahan Bakar Fosil, padahal sudah ada sepeda motor dan mobil yang menggunakan baterai untuk menggerakkan motor listriknya bahkan ada yang menggunakan solar panel (tenaga matahari), tapi entah kenapa produsen kendaraan masih demen memproduksi kendaraan menggunakan mesin berbahan bakar fosil.
Entahlah dengan negri ini, banyak efisiensi yang bisa dilakukan tapiii....

18 December, 2007

DALI system

DALI singkatan dari Digital Addressable Lighting Interface. DALI merupakan protocol dari sebuah lighting control system yang juga membawahi beberapa merk Lighting terkenal seperti : Phillips, Vossloh Schwabe, Osram, Helvar, Leviton dan lain2.


DALI masuk kedalam Lighting Control System namun aplikasinya tergantung Merk yang digunakan. DALI menggunakan kabel 5 core (biasanya NYYHY 5x1,5mm2), Live1, Live2, Neutral dan 2 core untuk data. System ini banyak digunakan untuk mengontrol dimmer lampu flourecent.

Perbedaan DALI dengan Automation system (BMS atau EIB) :
  1. DALI terbatas dalam kapasitas, cuma 64 address, sedangkan Automation seperti BMS atau EIB tidak terbatas.
  2. DALI terbatas untuk Lighting Kontrol saja sedangkan Automation bisa mengontrol semua mechanical electrical equipment (seperti MHVAC, Security system, Pumps, etc.)
  3. DALI tidak bisa mengkontrol Automation (BMS atau EIB), sedangkan Automation bisa mengatur DALI dengan menambahkan DALI gateway.

Detail mengenai DALI bisa di lihat disini

Dimmer Control

Dimmer merupakan kontrol dari tingkatan pencahayaan sebuah lampu (brightness control) dengan mengatur tegangan Vrms (Voltage root mean square) maka intensitas cahaya bisa di atur dengan menggunakan potensiometer atau variable resistor lainnya.
Sebagian besar Design Interior atau Lighting Consultant pasti mencantumkan dimmer pada setiap design mereka, karena dengan dimmer system mereka bisa mengatur suasana dan warna dari sebuah ruangan dengan lebih sempurna.
Pertama kali di temukan dimmer hanya bisa di gunakan untuk lampu pijar (incandescent lamp) panel kontrolnya pun cukup besar. Sejak di temukan komponen electronic bernama 'thyristor', sekarang semua jenis lampu bisa di atur dengan dimmer, ukurannya pun lebih kompak.
Thyristor sendiri jenisnya macam2 :

SCR — Silicon Controlled Rectifier
ASCR — Asymmetrical SCR
RCT — Reverse Conducting Thyristor
LASCR — Light Activated SCR, or LTT — Light Triggered Thyristor
DIAC & SIDAC — Both forms of trigger devices
BOD — Breakover Diode — A gateless thyristor triggered by avalanche current, used in protection applications
TRIAC — Triode for Alternating Current — A bidirectional switching device containing two thyristor structures
GTO — Gate Turn-Off thyristor
IGCT — Integrated Gate Commutated Thyristor
MA-GTO — Modified Anode Gate Turn-Off thyristor
DB-GTO — Distributed Buffer Gate Turn-Off thyristor
MCT — MOSFET Controlled Thyristor — It contains two additional FET structures for on/off control.
BRT — Base Resistance Controlled Thyristor
SITh — Static Induction Thyristor, or FCTh — Field Controlled Thyristor containing a gate structure that can shut down anode current flow.
Jenis2 lampu yang bisa di atur dimmer :
  1. Incandescent Lamp (Lampu Pijar), semua lampu jenis ini bisa di atur oleh dimmer asal beban lampu sesuai dengan kapasitas dimmer.
  2. Halogen Lamp (baik menggunakan Ballast Electronic atau Ballast Konvensional). Harap di ingat beban lampu di tambah 30% untuk ballast konvensional dan 5% untuk ballast electronic. Beban yang di tambahkan ini karena ada daya semu yang di pakai oleh ballast tersebut tapi tidak di gunakan oleh si lampu.
  3. Flourecent Lamp (Lampu Neon/TL/PL), Lampu jenis ini yang bisa di atur dimmer hanya lampu yang menggunakan Electronic Dimmable Ballast (sering disebut juga 'ECG' = Electronic Control Gear atau 'EVG'= Electronic Voltage Gear). Ballast ini di kontrol melalui analog output berupa tegangan 0-10V. Masalah pada jenis ini adalah Dimmable Ballastnya cukup mahal, kira2 harganya 400ribuan untuk satu lampu.
Untuk membuat design dengan kontrol dimmer harus melihat jenis lampu dan beban dari lampu tersebut. Jenis dimmer yang beredar di pasar juga banyak banget Kalau mau buat sendiri bisa lihat gambar rangkaian di bawah.

Dimmer di atas adalah dimmer jenis konvensional. Untuk dimmer yang di kontrol secara otomatis biasanya menggunakan dimmer digital misalnya menggunakan DALI system. Sedangkan untuk mengatur dimmer pada sebuah tata panggung (misal di diskotek atau pub) biasanya dimmernya menggunakan DMX system.

Untuk Dimmer dengan EIB system akan saya bahas secara terpisah.

17 December, 2007

A Simple Line Diagram for EIB System




Knowing EIB System

Intelligent installation systems
EIB is the intelligent building installation system that meets the highest standards, being both future-orientated and highly flexible. EIB provides increased security, economic efficiency, convenience and flexibility, whether in office buildings, industrial plants or residential properties. Functions such as lighting, shutter control and heating can be individually adapted to the requirements of the user. Later changes can be easily implemented.

Switching and control – wherever you are
With EIB, you can carry out all the required functions from any location in the building. It is also possible to operate the installation remoterly, for example via a mobile or the Internet. If several functions are to be executed using a single command, this can be implemented without problem. With central commands and user-defined procedures, all the shutters can, for example, be raised simultaneously, the constant lighting control activated and each room regulated to a separate temperature; all with a single push button action.

Automation required?
In building installations using EIB, functions are not only executed via direct manual operation. Using “closed-loop” control systems, the user can preselect an individual daily profile for the room temperature or the room lighting level can be constantly regulated to a required value. Time programs are recommended for regularly recurring events. Shutters and blinds can be raised automatically should the wind become too strong. ABB i-bus® EIB monitors the building and can isolate, for example, electrical circuits in the event of a fire or monitor the energy consumption.

Security around the building
With EIB, professional security functions can be integrated into the building installation. A security control panel manages all security-related signals and triggers alarms. The security control panel can also be conveniently operated via EIB. Signals can be displayed at any location or printed out via a logging printer.

You are kept informed
EIB makes it possible for current information about the building installation to be displayed continually. You can see at a glance in which rooms the lights are switched on or which doors and windows are open. Measured values can be shown on a display and alarm signals inform you about possible dangers in your building. If someone has forgotten to switch the light off, you can simply switch it off from the display terminal, without even having to walk up the stairs.

Changes implemented in a flash
The office has become a conference room? The top floor has been turned into a separate flat? The functions of the building installation need to be modified? Modifications such as these can easily be
implemented with EIB. You simply need to reprogram and the functions are already adapted to the new conditions. From a distance You can monitor your building via the telephone or the Internet. This is the best way to remain constantly informed….

EIB – one system has won through
EIB corresponds to the European system “European Installation Bus” (EIB for short) which in the meantime is being used all over the world. Since the EIBA (European Installation Bus Association) merged with two other European organizations to form the Konnex Association, has become the new standard in building technology.

Basic principle
With EIB, electrical loads are not switched directly in the circuit with switches and push buttons as in conventional electrical installations (see Diagram 1). Commands are sent instead from sensors (e.g. electronic push buttons) on a twin-core data cable and are received by actuators. The actuators then execute these commands, for example by switching the circuit (see Diagram 2).

What does that mean in practice?
Electrical installations with EIB offer the user numerous advantages:

  • Electrical loads can be switched independently of the electrical circuit (e.g. the light in the hallway can be operated from the lounge or from elsewhere in the house).
  • Electrical loads can be switched by several sensors without complicated two-way circuits or remote-control switches.
  • Functional associations between actuators and sensors can be modified at any time and adapted to individual requirements. All the functions can be programmed so that they run automatically. Logic operations can also be created (e.g. if the brightness level drops below a specific value after 18:00, all the shutters are lowered and the light in the hallway is switched on).
  • The switching states of electrical loads can be displayed.

Sensors and actuators
Sensors are, e.g. :
push buttons and switches
room thermostats
movement sensors
time switches
binary inputs
zone terminals
current modules
analogue inputs

Actuators are, e.g. :
binary outputs
dimmers
light controllers
shutter actuators
universal concentrators
display units

12 December, 2007

Sensor-sensor yang lain

Saya bahas secara singkat saja untuk menjelaskan sensor2 lainnya, jenis sensor berikut ini adalah sensor2 yang juga sering di gunakan dalam installasi di gedung :

Water Level Control
Sensor ini mendeteksi ketinggian air dalam penampungan. Detector yang di gunakan bisa dengan dua kutub bilah logam yang akan kontak bila terkena air atau menggunakan infra red sensor yang menjadikan permukaan air / cairan lain (kimia atau minyak) sebagai reflektor.

Water Leak Detector
Sesuai namanya sensor ini memberikan informasi bila terkena air. Biasa di gunakan untuk mengetahui datangnya banjir atau luapan air. Sensor ini cukup sederhana, hanya menggunakan dua bilah logam yang akan kontak bila terkena air.

Flow Switch
Di pasang di pipa berfungsi untuk memberikan informasi bahwa air / udara / cairan yang lain sedang mengalir di dalam sebuah jaringan pipa. Alat ini sebenarnya masuk kategori Mechanical equipment, saya masukkan di sini karena sering di gunakan terutama untuk Pemipaan Fire Fighting yang berhubungan dengan Fire Alarm System.
Flow switch terdiri dari kontak seperti saklar yang dihubungkan ke sebuah bilah plastik atau logam pipih yang bergerak bila cairan atau udara di dalam pipa mengalir / Flow.

Head Fire Sprinkler
Seperti halnya Flow Switch, alat ini merupakan Mechanical Accessories, biasa di gunakan untuk installasi Fire Fighting. Berfungsi sebagai pemadam kebakaran secara otomatis bila sprinkler ini terkena api / suhu mencapai 68 derajat celcius. Warna merah di tabung kaca adalah air raksa yang akan memuai dan memecahkan tabung kaca bila terkena panas. Hubungannya dengan Automation adalah ketika Head sprinkler pecah dan mengeluarkan air, maka air dalam pipa akan mengalir, aliran air ini akan memicu flow switch dan flow switch inilah yang memberikan informasi ke perangkat electronic seperti Fire Alarm atau Building Automation System.

Gas Detector
Prinsip kerjanya mirip dengan Ionization Smoke Detector. Sensor ini akan mendeteksi reaksi kimia khusus yang timbul dari gas (biasanya gas LPG, Metan atau gas berbahaya lainnya). Biasanya di taruh di dapur, garasi mobil atau tempat penampungan tabung gas. Sensor ini di pasang sebagai alat pencegah awal bila ada terjadi kebocoran gas. Alat ini banyak di jual tersendiri alias tidak bergabung dengan system automation lain.

Twilight Sensor
Atau Brightness sensor atau sensor cahaya. Biasa di gunakan untuk menghidupkan dan mematikan secara otomatis penerangan seperti lampu jalan, lampu teras atau lampu taman berdasarkan cahaya yang di terima. Jadi lampu nyala ketika gelap dan mati sendiri ketika matahari sudah bersinar. Bisa juga di setting kebalikannya. Sensitifitasnya juga bisa di atur. Prinsip kerjanya hanya menggunakan Photoelectric atau LDR (Light Dependent Resistor) sebagai detector cahayanya. LDR juga di gunakan di hampir semua Kamera baik Photo maupun Video.

Wind Sensor
Alias sensor angin.. sensor ini bisa memberikan informasi kecepatan angin. Untuk aplikasi di Automation system biasanya diperuntukan sebagai sensor apabila kecepatan angin terlalu kencang si sensor memberikan informasi kepada central control yang kemudian memerintahkan misalnya motorized canopy untuk menutup.

Thermostat
Berfungsi seperti Thermometer, bedanya thermostat akan memberikan output secara electronic kepada perangkat lainnya (misalnya Air Conditioner). Informasi dari Thermostat merupakan sebuah input untuk menghidupkan atau mematikan AC / Heater secara otomatis sesuai setting temperatur. Banyak di pakai oleh peralatan rumah tangga seperti AC, Water Heater, Lemari Pendingin, Oven Listrik dan lain2 ynag berhubungan dengan suhu.
Sebagai sensor dari sebuah Automation System, Thermostat dapat memberikan informasi suhu ruangan, sehingga Automation system dapat bekerja sama dengan AC central misalnya.
Untuk Aplikasi sederhana biasanya hanya menggunakan 'bimetal' sebagai sensornya, tapi untuk kontrol yang membutuhkan keakuratan temperatur/suhu secara digital biasanya menggunakan 'electronic thermistor'. Detailnya bisa lihat di wikipedia
Pressure Switch
Sensor ini biasa di gunakan untuk mendeteksi tekanan air atau udara didalam sebuah pipa (jaringan) atau tangki penampungan. Prinsip kerjanya cukup sederhana, paling mudah kita bisa lihat di pompa air yang otomatis, dimana kalau tekanan air sudah mencukupi maka pompa akan mati. Kompressor juga pasti menggunakan sensor ini. Tekanan yang dibutuhkan sampai switch on/off bisa di adjust.
Masih banyak sensor2 lainnya, tidak semuanya bisa saya ingat.. kalo ingat langsung saya tambah ya..

11 December, 2007

Smoke Detector



Detektor Asap ini merupakan pasangan dari Heat Detector. Dimana ada installasi Fire Alarm pasti ada Smoke dan Heat Detector, ibaratnye keduanya selalu ada bersama dalam susah maupun duka.. halaah.. ngelantur.

Pada prakteknya smoke detector di gunakan untuk memproteksi secara dini ruangan dari kebakaran dengan mendeteksi asap yang keluar sebelum api membesar. Sering di gunakan di ruangan seperti ruang tamu, ruang makan, ruang komputer, kamar tidur dan lain sebagainya...

Penempatan terbaik dari smoke detector atau heat detector harus di perhitungkan benar2, agar jangan sampai sensor tersebut menjadi tidak efektif. Sebenarnya penempatan terbaik adalah mengkombinasikan kedua sensor ini, heat detektor di tempatkan di dalam ceiling dimana sering terjadi kebakaran disebabkan oleh hubungan singkat (korsleting) dari kabel listrik, dimana sering terjadi korsleting tanpa terdeteksi karena rata2 orang menempatkan sensor di bawah ceiling. Dan untuk Smoke detector dapat ditempatkan di bawah ceiling untuk memproteksi api yang timbul dari ruangan di bawahnya.
Penempatan Smoke detector tidak di anjurkan di dalam ceiling, ini di sebabkan smoke detector juga sensitif terhadap debu, dengan menempatkan sensor ini di dalam ceiling harus diperhitungkan terhadap debu atau sarang laba2 yang bisa menutupi sensor ini.

Yang juga harus di perhitungkan juga dalam memasang Smoke detektor di sebuah ruangan adalah kemungkinan si pemilik ruangan adalah seorang perokok. Jangan sampai gara2 asap rokok Fire Alarm jadi aktif. Juga jangan di taruh di dekat dapur... nanti lagi masak alarm lagi... berabe khan?

Perawatan Smoke Detector juga di perhatikan, karena partikel debu lama kelamaan akan menutup tutup sensor sehingga tidak bisa mendeteksi lagi atau bahkan debu akan memicu alarm.

Optical Smoke Detector
Jenis Smoke detector ada 2 yaitu Optical Smoke Detector dan Ionization Smoke Detector. Perbedaan keduanya terletak dari sensor pendeteksi asapnya. Optical Smoke Detector menggunakan sinar infrared yang sensitif terhadap asap, sedangkan Type Ion menggunakan sensor yang sensitive terhadap reaksi kimia. Untuk pembahasan detailnya bisa dilihat di wikipedia.
Harga Optical Smoke detector biasanya lebih mahal dari yang Ionization. Ini di sebabkan type yang optical lebih akurat dalam mendeteksi asap, sedangkan yang ion kadang2 partikel yang bukan asap (debu misalnya) bisa terdeteksi.
Ket. gambar :
1. Optical Chamber
2. Cover
3. Case Moulding
4. Photodiode (detector)
5. Infra Red LED

Ionization Smoke Detector
Smoke detector membutuhkan power supply untuk beroperasi bisa dari battery yang di pasang di sensor atau di dapat dari kabel installasi yang di supply oleh control panel. Di sensor ini terdapat Led yang akan berkedip kalau dia aktif (stand by / normal) dan akan menyala kontinyu ketika dia mendeteksi asap. Untuk mengetes sensor ini biasanya menggunakan tombol ‘test’ yang terletak di sensor tersebut, kadang2 pemilik ingin memastikan sensor bekerja baik dengan cara di test menggunakan asap rokok.
Intermezzo
Saya punya pengalaman lucu ketika mengadakan test smoke detector. Waktu itu (kira2 th. 1996) saya sedang mengerjakan proyek apartemen di daerah sudirman. Saat testing commissioning, si pemilik (orang jepang yang idealis and sedikit gelo) menginginkan test fire alarm harus detail setiap unit. Sedangkan apartemen tiap lantainya ada 8 unit dengan 24 lantai, dan kita ada 3 tower. Tiap unit harus di test satu2, padahal biasanya saya test secara random saja, selain lebih efektif juga lebih cepat. Dinas Pemadam Kebakaran aja ga pernah test sedetail ini. Ya wis ikuti aje..
Singkatnya saya cari deh sepenjuru proyek, saya umumkan bahwa kami butuh perokok berat yang mau test fire alarm, rokok silahkan pilih sendiri.. waah yang berminat banyak banget.. rokok pilihannya macem2 dari Dji sam soe, gudang garam sampai djarum super bahkan ada yang minta Marlboro. Dalam beberapa kali test banyak perokok yang kapok ikutan test, persoalanya asap rokok yang di hisap harus disemburkan ke smoke detector langsung dengan menggunakan pipa konduit tanpa sempat di nikmati atw masuk ke paru2.. rasanya ampuun bibir pade jontor, mulut serasa asbak, mata merah. ada yang sampe muntah2 malah... Tapi ada juga yang setia ikut terus test.. katanya "kapan lagi ngerokok puas gratis, eh malah di bayar lagi.. hehe". Dasar tuh muka lama2 dah kayak lokomotif..

10 December, 2007

Heat Detector

Ada juga yang bilang Temperature Sensor, Sensor Panas alias Pendeteksi Panas/Api. Tugasnya memang mendeteksi adanya api dari panas yang ditimbulkannya. Digunakan pada perangkat Fire Alarm baik di gedung maupun di rumah tinggal.

Untuk di Gedung bertingkat biasa di pasang di area parkir, koridor, ruang panel, ruang genset, dapur dan ruang service. Sedangkan kalau di rumah tinggal biasa di pasang di garasi, dapur dan area service. Aplikasi untuk ruangan lainnya juga bisa tergantung dari design dan kegunaan dari ruangan tersebut. Intinya ruangan yang di proteksi oleh sensor ini adalah ruangan yang berpotensi menimbulkan api alias mudah terbakar.

Jenis sensor ini ada 2 macam, yang pertama di kenal dengan istilah ROR (Rate Of Rise) dan satunya lagi Fixed Heat Detector.

ROR (Rate Of Rise)
Sensor ini dapat mendeteksi Panas api tanpa harus terbakar langsung. Di dalam sensornya ada lempengan bimetal yang akan kontak bila sensor ini di kenai perubahan suhu yang cukup signifikan (biasanya perubahan suhu antara 6,7 - 8,3 derajat celcius/menit). Ketika suhunya normal kembali bimetal ini akan kembali seperti semula. Tapi kalau sensor ini terkena langsung api dan lepas kontaknya ya pastinya tidak bisa digunakan lagi. Untuk men-test dapat menggunakan hair dryer biasa, hembusan angin panas dari hair dryer cukup untuk men-'trigger' ROR tanpa merusaknya.

Fixed Heat Detector
Secara fisik, tidak ada perbedaan dari type ROR. Yang membedakanya hanyalah type ini baru akan mengirim kontak alarm bila suhu sudah mencapai 58 derajat celcius. Setelah itu sensor tidak bisa di gunakan lagi dan harus di ganti. Biasanya type ini di pasang di ruang panel, ruang genset atau ruang pompa, karena kondisi ruang2 tersebut dalam kondisi normalnya saja sudah panas, dan untuk mencegah terjadinya 'false alam' bila sensor yang di pasang type ROR.

Perbedaan fungsi dua type di atas yang menentukan type Heat Detector mana yang paling cocok di tempatkan di sebuah ruangan.

Heat Detector paling banyak di gunakan pada installasi Fire Alarm di gedung2 bertingkat berpasangan dengan Smoke Detector. Heat Detector bukanlah sensor untuk keselamatan, sebab sensor ini baru memberikan sinyal alarm bila sudah muncul api, untuk keselamatan Smoke detector lebih cocok digunakan. Heat Detector tidak membutuhkan power supply, sedangkan harganya tidak mahal kok.. untuk Merk China bisa di beli dengan harga kira2 100ribuan.


Beam Sensor

Alias Active Infra Red Sensor. Kebalikan dari PIR, sensor ini lebih banyak di gunakan di daerah Oudoor. Beam sensor terdiri dari 2 buah yaitu receiver dan transmitter. Transmitternya memancarkan sinar infra red (beam) yang diterima oleh receiver dalam satu garis lurus. Bila ada yang memotong sinar beam ini maka sensor akan mengirimkan sinyal ’alarm’ ke panel control. Ada juga receiver dan transmitter yang menjadi satu kesatuan, dan sinar beam akan di pantulkan oleh reflector di ujung satunya.

Type sensor ini di bedakan dari jarak yang ditempuh oleh sinar beam tadi. Dari jarak 20 meter sampai ada yang 60, 100 meter atau lebih. Makin besar jaraknya tentunya makin mahal harganya. Dibandingkan dengan PIR harga Beam sensor tidaklah terlalu jauh berbeda.

Sensor ini walaupun segaris lurus tapi sinarnya cukup lebar (vertically), ini untuk menghindari benda / objek yang lebih kecil dari tubuh manusia dapat men trigger alarm (misalnya anjing atau kucing). Sensitifitas sensor ini bisa di set berdasarkan kecepatan dari benda yang melintas memotong sinar beam. Jadi kalau yang mememotong sinar tersebut bergerak dengan kecepatan 0,1 detik sekalipun akan bisa di deteksi.

Konsep sensor ini kerap di pakai dalam film laga, yang di gambarkan kalau sinarnya dapat di lihat dengan peralatan khusus. Nah.. supaya seru, biasanya tokoh dalam film akan menghindari sinar sensor dengan keahlian akrobatnya atau di pantulkan dengan cermin, padahal tidak semudah itu dalam realitanya. Ada juga yang cukup rancu, yaitu mengepulkan asap sehingga sinarnya akan terlihat. Padahal untuk daerah Indoor seperti ruang Brankas, akan jauh lebih efektif bila menggunakan PIR dari pada Beam sensor.

Kelebihan sensor ini adalah keakuratannya dalam mendeteksi dibandingkan dengan PIR. Cover proteksi Beam sensor seperti dinding tipis, bila ada objek yang melewatinya maka akan terdeteksi, Karena sinar beam bergerak dalam garis lurus, maka apabila anda punya gedung dengan 4 sisi yang ingin di proteksi, maka dibutuhkan 4 set beam sensor, itu pun dengan catatan bahwa satu sisi tersebut tidak ada pohon / pilar / tembok di tengah sisi tersebut yang dapat menghalangi.
Untuk lebih efektif pemasangan sensor ini harus melihat kemungkinan seperti dedaunan / pepohonan yang akan menutupi sinar beam bila tertiup angin atau bahkan tumbuhan yang tumbuh besar dan akhirnya menghalangi beam sensor ini.

Sensor ini juga kadang2 di gunakan pada peralatan pintu otomatis seperti palang pintu otomatis di parkiran. Maksudnya, apabila ada mobil yang masih berada di bawah palang otomatis, palang tersebut tidak akan turun sampai mobil tersebut keluar dari area palang pintu otomatis.

09 December, 2007

Break Glass Detector

Sensor ini bertujuan mendeteksi kaca yang di pecah. Sering di gunakan oleh Alarm Mobil. Untuk rumah / gedung biasanya di pasang di kaca pada jendela, pintu atau dinding.

Jenisnya ada 2 yaitu passive dan active.

Passive Break Glass
Bentuknya seperti coin, di tengahnya ada lubang. Jenis ini tidak membutuhkan power supply, jadi kabelnya langsung dapat di koneksi ke Panel control.
Type yang sering di gunakan adalah 'Piezoelectric', type ini paling banyak di pakai terutama di Alarm Mobil. Break glass type ini akan lebih efektif di tempel langsung ke kaca yang akan diproteksi. Ini di sebabkan 'piezoelectric' akan menangkap suara frequency tinggi dari getaran yang ditimbulkan ketika kaca di pecah. Sering 'false alarm' timbul karena si sensor salah mendeteksi suara, misalnya suara petir atau suara benda jatuh yang keras. Namun ini cukup efektif di alarm mobil. Jadi si Alarm mobil akan berbunyi ketika kaca di ketok walaupun tidak sampai pecah.
Type yang lainnya ialah menggunakan kontak pendulum di dalam sensornya atau kontak sensor dengan air raksa. Type ini lebih cocok di sebut dengan 'Vibration Sensor' alias sensor getar. Type ini jarang digunakan, karena dengan goncangan kecil saja dia sudah men-'trigger' alarm. Bentuk sensor ini seperti kotak korek api.

Kelebihan 'Passive Break Glass' adalah harganya lebih murah dan installasinya simple. Dalam beberapa kasus bahkan sensor ini lebih efektif dari pada yang 'active Break Glass' (seperti untuk Alam mobil tadi). Kekurangan Passive Break Glass radius coverage-nya kecil, jadi untuk satu ruangan penuh kaca di butuhkan banyak sensor.

Active Break Glass
Sensor jenis ini membutuhkan DC power supply. Jenis ini biasanya di sebut 'Break Glass dual tech', karena selain mendeteksi suara frequency tinggi (yang timbul dari kaca pecah) juga harus di kombinasikan dengan getaran yang timbul bila kaca di pukul.
Di bandingkan yang passive, sensor ini lebih besar coverage areanya. Jadi untuk satu dinding dengan beberapa jendela kaca bisa di 'cover' dengan hanya memasang 1 buah sensor bila radius coverage-nya mencukupi. Kelebihan lainnya adalah jenis ini bisa di set sensitifitas-nya, sehingga 'false alarm' bisa lebih di hindari untuk terjadi.


Bila Break glass di pasang di jendela atau pintu, akan lebih bagus bila di kombinasikan dengan 'magnetic contact'. Sedangkan mengenai pemilihan sensor yang active atau passive harus di lihat kondisi lapangan, mana yang paling efektif, dan juga mana yang paling cocok dengan kondisi kantong...:-)


06 December, 2007

Passive Infra Red (PIR)

Skema dari Rangkaian PIR


Di sebut juga Motion Sensor, Pressense Detector atau Watch Dog. Jenis sensor ini juga sudah umum digunakan dan sudah dikenal luas. Merk-nya pun buanyak banget.
Seperti halnya peralatan Elektronik yang lainnya, harganya tergantung dari negara pembuatnya, kwalitas dan juga Merk.

Sesuai namanya, Passive Infra Red, sensor ini bersifat pasif alias hanya menerima. Sensor ini menerima sinyal infrared yang di pancarkan suatu objek (dalam hal ini tubuh manusia) yang di bandingkan dengan suhu ruangan. Oleh karena itu sensor ini lebih banyak digunakan di dalam ruangan karena bila diluar ruangan (outdoor) perubahan suhu yang terjadi tidak hanya dari panas tubuh manusia, bisa juga dari cuaca. Namun saat ini sudah banyak product dari sensor ini yang aplikasinya bisa di gunakan di luar ruangan, biasanya settingnya berbeda dari yang ’indoor type’, atau bisa dikombinasikan dengan sensor microwave (PIR dual Tech), selain mendeteksi perubahan suhu ruang karena panas tubuh sensor ini juga mendeteksi gerakannya.

Yang perlu di ingat, sensor ini ’coverage area’-nya tergantung dari lensa yang di gunakan. Misalnya sensor ini di tempatkan dimana, dengan ketinggian berapa? Indoor atau oudoor?
Penempatanya tidak di anjurkan di depan Blower AC, Jendela atau sinar matahari. Orang yang berjalan di balik jendela kaca tidak dapat di deteksi oleh PIR.

PIR Coverage

Aplikasi sensor ini banyak di gunakan untuk Security System, Lighting Control System dan Pintu Otomatis. Secara umum penggunaan PIR untuk aplikasi tadi hampir sama. Namun sensor PIR untuk keperluan security system dibutuhkan sensor yang lebih akurasi dalam mendeteksi, lebih baik lagi bila menggunakan PIR dual Tech.


Untuk keperluan security system sensor ini di gunakan untuk mendeteksi adanya gerakan manusia di suatu ruangan atau area, sehingga sensor akan men-trigger alarm system bila ia mendeteksi kehadiran seseorang di ruangan tersebut. Perlu tidaknya ruangan yang ingin di monitor oleh PIR harus benar2 di perhitungkan, kalau tidak selain tidak efektif juga bisa ’false alarm’ terus.. cape’ deeh.
PIR untuk keperluan security membutuhkan power supply 12/24 VDC, lalu kontak yang di koneksi ke Control Panel bisa Normally Close (NC) atau Normally Open (NO). Juga ada koneksi ’Tamper’ tujuannya bila PIR ini di buka maka Alarm juga akan mendeteksinya.

Sedangkan bila sensor ini digunakan untuk Lighting control, ketika seseorang berada di sebuah ruangan sensor akan mendeteksi kehadiran manusia dan kemudian menghidupkan lampu, dan ketika tidak ada orang yang dideteksi lampu akan mati dengan sendirinya. Cocok di gunakan di koridor, tangga, gudang, garasi area kerja dan lain2. Masalah penempatan sensor juga harus diperhitungkan, jangan sampai ketika orang sudah ada di dalam ruangan tapi belum terdeteksi sehingga lampu tidak juga menyala.. bingung cari saklar lampu deh.
PIR untuk aplikasi Lighting Control tidak memerlukan power supply karena sensor ini langsung di koneksi langsung ke installasi listrik alias 220VAC.

Aplikasi untuk pintu otomatis adalah yang paling banyak di gunakan. Saat ini hampir semua Mall atau gedung di Jakarta dan kota2 besar lainnya menggunakan pintu otomatis. Pintu ini akan terbuka secara otomatis bila ada orang yang berdiri di depan pintu. Sensor ini merupakan satu paket dari sistem pintu otomatis, letak sensornya biasanya tersembunyi.

04 December, 2007

Magnetic Contact

Macam jenis dan Merk Magnetic Contact

Sensor ini biasa di pakai untuk Pintu dan jendela. 1 set sensor terdiri dari dua buah unit, 1 unitnya magnet yang di taruh di daun pintu/jendela yang bergerak sedangkan 1 unitnya berisi reed kontak yang akan bereaksi terhadap magnet.
Ketika keduanya di dekatkan maka kontak akan tertutup dan jika di jauhkan kontak akan terbuka. Type ini di sebut Normally Close (NC), kalo kebalikannya namanya Type Normally Open (NO).

Penggunaan Normally Open atau Normally Close tergantung aplikasinya. Untuk security pastilah menggunakan Normally Close. Type Normally Close inilah yang paling sering digunakan.

Bentuk sensornya macam2 ada yang silinder (ditanam/recessed type), kotak kecil sampai yang heavy duty. Khusus yang heavy duty biasanya di gunakan untuk pintu besi, kaca atau pintu kayu yang besar.
Merk2 dari sensor ini buanyak banget sampe yang tidak ada Merk-nya pun beredar dipasaran. Harganya juga murah, kalo beli di toko harganya dari yang 50 ribu/set sampe yang ratusan ribu. Kalo anda mencari yang lebih murah bisa cari buatan China. Mau yang paling murah? bikin sendiri juga bisa kok.. beli aja 'Reed Contact' di toko elektronic (biasanya saya beli di Glodok-Jakarta), trus magnetnya ambil dari magnet bekas speaker, masalahnya tinggal di casing-nya.
Sensor ini sudah terlalu umum dipakai. Jadi kayaknya saya tidak perlu bahas mendetail yaa.

03 December, 2007

Wire Less

Saya sudah bahas sebelumnya tentang Media Hard Wire. Saya coba bahas sekarang tentang Media Wire Less alias tanpa kabel. Media tanpa kabel ini juga ada beberapa jenis :

Infra Red (IR)

Media ini sudah kita kenal, banyak digunakan di perangkat elektronik di rumah2 misalnya TV, AC, Audio system, bahkan Handphone.

Syarat mutlaknya, harus ada Transmitter (Tx) sebagai pengirim perintah dan Receiver (Rx) sebagai penerima perintah. Antara Tx dan Rx harus dalam satu ruangan karena Media IR tidak dapat menembus dinding dan juga sinar Infrared dapat memantul di dinding. Jarak tempuh sinar IR hanya sekitar 15 meter.

Sinar Infrared merk satu dengan merk yang lain dibedakan dari kodenya, sehingga kita tidak bisa memakai remote Merk A untuk peralatan Merk B, kecuali mereka memang memakai kode IR yang sama.

Infra Red banyak di gunakan untuk system yang sederhana saja dan bersifat lokal karena keterbatasan jarak dan kemampuannya.

Kelebihan system ini adalah karena harganya murah, aplikasinya sederhana dan tidak sulit Installasinya.

Hampir semua Merk dari sebuah Automation System mempunyai system dengan Infrared. Namun biasanya Media Infrared hanyalah pelengkap dari satu system Automation yang besar.

Sedangkan Merk yang mengkhususkan diri di Infrared hanya system Remote Controlnya saja. Merk Philips Pronto contohnya, mereka mempunyai produk Remote yang bisa digunakan untuk mengkontrol semua peralatan Elektronik yang menggunakan IR Remote Control.

Radio Frequency

Persis sama dengan Infrared, bedanya system ini menggunakan Radio Frequency untuk media penghantarnya. Kelebihan dari system ini, dia bisa lebih luas jangkauannya dan tidak ada masalah dengan halangan misal dinding karena beda ruangan. Masalah utama dari system ini sering terjadi gangguan antar frequency karena Indonesia belum punya semacam undang2 yang mengatur penggunaan Radio Frequency. Sedangkan di Negara2 yang sudah mengatur penggunaan Radio Frequecy system ini cukup handal.
Tehnologi wireless lainnya seperti WIFI dan Bluetooth setahu saya masih belum banyak digunakan oleh system Automation (atau mungkin sudah di gunakan cuma sayanya yang ga tahu). Media ini memang banyak digunakan untuk tehnologi handphone dan jaringan internet (Laptop).
Untuk WIFI sepertinya bakal menjadi media wireless yang paling bagus, mengingat jangkauan dan kehandalannya. System Remote tunggal seperti Philips Pronto sudah menggunakan WIFI juga.

22 November, 2007

Jaringan Data

Secara Umum, jaringan data dari sebuah system Automation terbagi menjadi 2 media yaitu : Media Hard Wire alias menggunakan kabel dan Wire Less

Saya bahas yang Hard wire dulu (biasanya menggunakan kabel tembaga) media inipun terbagi menjadi beberapa macem, yaitu :

1. Power Line Carrier (PLC)

System automation ini menggunakan kabel power listrik yang sudah ada sebagai media pembawa data (carrier). Aplikasinya banyak digunakan untuk Industri Automation, tapi sekarang banyak System Automation Rumah sudah menggunakan media ini, kelebihan system ini adalah installasi tidak memerlukan kabel khusus lagi, jadi cukup menggunakan Installasi kabel listrik yang ada. Syarat utama system ini harus ada Phase filter yang dipasang di jalur utama installasi listrik, agar data yang terkirim dari sebuah rumah tidak menyebrang ke installasi rumah tetangga yang sama2 menggunakan jaringan dari kabel PLN yang sama. System ini sangat cocok untuk rumah dengan system konvensional yang kemudian ingin menggunakan Automation tanpa harus merubah Installasi.
Media PLC ini juga sudah di pakai untuk jaringan Internet, jadi untuk akses Internet bisa lewat kabel PLN. Saya dengar PLN sudah mengembangkan teknologi ini, tapi mungkin karena politik dagang sehingga teknilogi ini belum kita nikmati.
Ketika kemarin saya lihat di Pameran, Schneider sudah mengeluarkan productnya berupa ’Hub’ yang menggunakan Media PLC, jadi installasi LAN di sebuah gedung tidak memerlukan Back Bone berupa Kabel Data tapi melalui kabel listrik yang sudah ada. Waah jadi lebih simple khan?
Nah untuk Product2 Home Automation yang menggunakan Media PLC antara lain :

  • Insteon (buatan Amerika) and setahu saya belum masuk Indonesia
  • i-Plug (buatan Korea) sudah ada distributor di Indonesia
  • EIB/KNX Power Line system, namun sayang product2 ini belum masuk ke pasar Indonesia
    (Merk2 lain saya belum tahu, kalau ada yang tahu kasih tahu saya ya..)

2. Bus Line

System ini pakai kabel juga tapi kabelnya pakai Twisted Pair. Twisted Pair terdiri dari 2 kabel yang di twist (dipelintir-red) dalam satu kabel.
Mayoritas saat ini Automation (baik Gedung maupun Rumah) di Indonesia masih menggunakan Media ini untuk komunikasi datanya. Beberapa Type Bus Line :

  • Twisted Pair #18AWG, biasanya di gunakan untuk system BAS / BMS dan Fire Alarm. Merk2 yang menggunakan system ini : Johnson Control, Honeywell, Yamatake, dll. Harga kabelnya lumayan mahal dan produksi lokal kayaknya sudah ada.
  • Twisted Pair 2x2x0,8mm, EIB/KNX system masih menggunanya, Merk2 EIB/KNX system antara lain : Angebotsartikel, ABB, Altenburger, ASTON, Berker, BR-Tech, Busch-Jaeger, Falk, Gira, Hager, Heimeier, Hensel, IPAS, Jung, Lingg & Janke, Merten, Moeller, Schlaps & Partner, Siemens, Theben, Walther, Winkhaus
    Kabelnya memang khusus, walaupun saya pernah nyoba dengan kabel Twisted Pair #18AWG dan tidak ada masalah.tata
    Saya akan bahas tentang EIB secara detail pada postingan tersendiri, soale system inilah yang di pasarkan oleh perusahaan saya.
  • Sama seperti dua type di atas, tapi kabel bisa menggunakan kabel apa saja yang penting dua core, bisa kabel telephone, twisted pair, kabel listrik atau yang lain.. Merk yang menggunakannya : T&J (buatan China). Keuntungannya karena kabelnya bisa kabel apasaja, maka harga installasi bisa menyesuaikan.

3. Specific Data Cable

Kabelnya spesifik yang dikeluarkan oleh pabrik peralatannya. Tapi ada juga yang menggunakan kabel data yang banyak dipakai seperti CAT5.

  • Kabel Data CAT5, Setahu saya Merk Xantech (buatan Canada) menggunakan kabel ini sebagai jaringan datanya. Saya belum tahu merk yang lainnya. Keuntungannya harga kabelnya murah.
  • Kabel Khusus, biasanya kabel di produksi oleh mereka sendiri. Crestron dan Lutron (sama2 buatan Amerika) adalah penganut system ini, walau setahu saya mereka menggunakan Twisted Pair dan CAT5 juga. Kendala system ini adalah harga kabelnya mahal dan tidak ada produk alternative.

Saya tidak membahas secara detail satu persatu karena saya tidak mengetahui semua system diatas, beda Merk pasti beda system. Insya Allah untuk system EIB/KNX yang merupakan system open protokol untuk Automation saya akan bahas lebih lanjut.

Powered By Blogger